Warning: ini_set() has been disabled for security reasons in /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 93

Warning: ini_set() has been disabled for security reasons in /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 96

Warning: ini_set() has been disabled for security reasons in /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 654

Warning: session_start() [function.session-start]: Cannot send session cookie - headers already sent by (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 412

Warning: session_start() [function.session-start]: Cannot send session cache limiter - headers already sent (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 412

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 415

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/templates/impala/ja_templatetools.php on line 25

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/templates/impala/ja_templatetools.php on line 26

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/templates/impala/ja_templatetools.php on line 27

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/templates/impala/ja_templatetools.php on line 28
Kompetensi dan Organisasi

IMPALA UNIBRAW

Rumah Kaca Besar Kita
Pemanasan Global, biasa disebut karena peningkatan suhu rata-rata atmosfer, di permukaan laut dan daratan bumi semakin menunjukkan eksistensinya sehingga mampu melakukan perubahan besar-besaran terhadap iklim, ditandai dengan pola hujan, pola tanam, sirkulasi air dan sebagainya. 
You are here:
Kompetensi dan Organisasi
Opini
Oleh Lazuardi   

Istilah kompetensi sudah cukup lama didengungkan dalam dunia pendidikan baik dalam pendidikan formal maupun informal. Kompetensi merupakan materi atau bidang kerja yang bisa dibuat parameter dalam keberhasilan suatu pekerjaan. Secara umum, kompetensi berfungsi sebagai parameter tingkat kemajuan suatu bidang kerja yang digunakan untuk uji kualitas terhadap seseorang yang telah mendalami suatu bidang kerja tertentu.

Dalam sebuah organisasi, wujud dari kompetensi terdapat dalam hal-hal yang terkait dengan fungsi kompetensi tersebut, misalnya dalam pengembangan kualitas anggota. Dalam kompetensi, kualitas Sumber Daya Manusia dalam organisasi diukur secara numeric dan kemudian dideskripsikan dalam bentuk angka atau abjad. Misalnya, si X menguasai rigging / SRT maka bobot kualitas si X bisa dinilai dengan angka 10 atau huruf A. Dengan kompetensi tersebut maka kita dapat mengukur keberhasilan suatu program kerja dengan parameter yang kita tetapkan di awal.

Dari penjelasan di atas maka dapat kita rinci beberapa manfaat uji kompetensi, yaitu :

  1. Mengukur kontribusi individu terhadap organisasi
  2. Mengukur kontribusi kelompok terhadap organisasi
  3. Mengidentifikasikan kebutuhan training
  4. Melihat hasil belajar
  5. Memberikan sertifikat kompetensi yang telah dicapai

Bagaimana membuat kompetensi

Untuk membuat sebuah kompetensi yang tepat, kita harus memiliki data yang akurat yang didukung oleh kemampuan dan penguasaaan materi seorang penilai. Lalu bagaimana kita dapat mengetahui bahwa seseorang tersebut telah menguasai materi dalam suatu bidang? Sebagai contoh dalam bidang olahraga arung jeram, untuk mengetahui penguasaan materi rescue seseorang maka kita dapat menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

tabel kompetensi

Tabel di atas terbagi atas kompetensi, elemen kompetensi, dan unjuk kerja atau performance. Penjabaran kompetensi dijabarkan dari kompetensi yang bersifat umum menjadi khusus dan kongkrit. Berdasarkan tabel di atas, kompetensi yang diukur adalah river rescue. River rescue sebagai kompetensi masih terlihat sangat umum untuk kita nilai bahwa seorang rafter bisa melakukan river rescue. Untuk memudahkan penilaian atas kemampuannya maka kemampuan sebagai river rescue tersebut dibagi lagi menjadi tiga yaitu self, boat, dan rope rescue.

Selanjutnya untuk menilai keberhasilan seorang rafter dalam menjalani salah satu elemen kompetensi, contohnya self rescue, maka kita bagi lagi dalam unjuk kerja yang semakin kecil dan bisa kita lihat keberhasilannya seperti bisa membaca arus utama dan bisa berenang dengan baik di jeram. Unjuk kerja dapat dinilai melalui berbagai sistem penilaian yang sudah kita tentukan.

Untuk membuat sebuah kompetensi diperlukan sebuah sistem penilaian yang menurut kita bisa dijadikan tolak ukur bahwa kompetensi yang kita miliki benar-benar menghasilkan seseorang yang punya kualitas sesuai dengan tujuan awal. Karena itu dibutuhkan SDM yang menguasai suatu bidang tertentu dengan baik agar bisa menentukan sistem penilaian yang sesuai dengan kompetensi tersebut. Sebagai contoh, dalam bidang arung jeram penilai kompetensi haruslah seorang rafter yang berkemampuan bagus dengan jam terbang tinggi serta menguasai ilmu-ilmu di bidang rafting dan tepat bila dijadikan pemateri. Orang yang tidak punya pengetahuan 'lebih' dalam bidang yang dijadikan kompetensi tidak bisa dijadikan seorang penilai.

Menilai Kompetensi 

Dalam kompetensi terdapat 4 model penilaian yang masing-masing punya maksud tersendiri yaitu wawancara, tes tertulis, praktek, dan laporan. Wawancara digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman yang dimiliki calon rafter karena wawancara tidak terikat dalam kasus benar dan salah tetapi bisa berkembang dalam berbagai macam penjabaran contoh kasus dan lainnya. Test tertulis bisa digunakan untuk mengukur daya ingat dan pengertian calon rafter akan materi. Dengan model ini kita bisa dengan mudah menggolongkan nilai sesuai dengan klasifikasi yang dibutuhkan, seperti kemahiran, advanced, pemula, dan sebagainya. Praktek sangat diperlukan karena medan kerja OPA adalah lapangan sehingga kemampuan teknis yang baik akan sangat mendukung. Selain itu dengan praktek kita akan mengetahui tingkat kemampuan seseorang sesuai dengan kompetensi yang kita ujikan. Laporan merupakan akumulasi dari keseluruhan elemen penilaian, biasanya dilakukan jika awal kompetensi merupakan sebuah manajemen kegiatan/perjalanan.

Selanjutnya untuk menentukan tingkat kualitas calon rafter diserahkan kepada penilai yang akan melakukan seleksi. Proses seleksi tersebut mempunyai kelemahan yaitu kemungkinan adanya subyektifitas dari penilai dalam menentukan grade kualitas kompetensi yang akan diujikan. Namun kelemahan tersebut dapat diantisipasi dengan model pengukuran diagram gunung sebagai berikut :

Gunung Kompetensi

Pada diagram gunung tersebut ada enam tingkatan kompetensi. Semakin ke atas akan semakin memudahkan kita dalam menyusun kompetensi dan standar kualitas seseorang. Dengan diagram tersebut kita bisa melihat skill seseorang dari berbagai model penilaian. Pengetahuan bisa dibuatkan kompetensinya dengan test tertulis, wawancara dan praktik. Sedangkan untuk mengetahui pengalaman, bisa kita lihat dari jam terbang yang telah dilakukan.

Tiga tingkatan penilaian yang teratas tersebut yaitu skill, pengetahuan dan pengalaman bisa kita nilai dengan obyektif, tetapi untuk tiga baris di bawahnya yaitu sikap, motivasi dan kepribadian sangatlah sulit untuk diukur dengan obyektif. Untuk mengatasi kendala tersebut, maka kita dapat menggunakan model pendekatan wawancara dengan lawan calon rafter. Cara ini merupakan cara terbaik untuk penilaian masalah kompetensi yang sulit diukur dengan obyektif. Pendekatan tersebut biasanya dilakukan untuk sebuah tim yang memang benar-benar dipersiapkan karena metode yang dipakai sangat berkaitan dengan keutuhan tim. Akhirnya subyektifitas anggota tim dalam menilai temannya sangat menentukan penilaian kompetensi. (Lazuardi)